Senin, 01 Juni 2015

NANTIKANKU DI BATAS WAKTU


True love doesn't have a happy ending;
True love doesn't have an ending - Anonymous

            Semua membisu. Setengah jam berlalu tanpa kata. Taksi yang meluncur siang itu di jalan Let. Jend. Suprapto menjadi saksi perubahan sikap masku. Mas Salim Ansari yang sudah sangat lama kukenal, hari ini berubah. Tak ada lagi Masku yang periang, tak ada lagi gelak tawa & candanya yang kerap menghiburku. Tak ada lagi sosok pelindung yang memberikan perhatian penuh dan selalu memanjakanku. Matanya tak lagi memancarkan kecintaan. Menatapku saja ia takut.
            Pagi itu aku bersiap menjemput Masku yang akan pulang dari Pesantren. Pesan singkat yang dikirimkan Ibu Hanna padaku semalam merupakan kabar gembira yang telah aku tunggu selama enam tahun.
      Masku kembali.
      Selama enam tahun menimba ilmu di Pondok Pesantren Daar El-Qolam, tak sekalipun dia mengirimkan kabar padaku. Tidak surat, tidak SMS, apalagi telepon. Untunglah Ibu Hanna mengerti kekhawatiranku. Ia secara rutin mengabari kemajuan putranya selama menimba ilmu disana. Ibu Hanna sudah seperti ibuku sendiri. Ibu Masku yang berumur 50-an itu memang sosok Ibu yang mengayomi anak-anaknya.
      “Mas Salim!!” kuteriakkan namanya saat Masku menjejakkan kaki dari dalam kereta di Stasiun Senen, bersebelahan dengan Rahmanrekannya yang juga sahabat kami sejak kecil. Ketika melihatku, mereka tampak terkejut dan mengalihkan pandangannya.
      Tak ada jawaban. Masku menunduk, berpikir lama. Ada yang aneh dengannya.
      Sangat sulit memaksanya untuk naik taksi bersamaku. Tak ada alasan, tak ada penjelasan yang keluar dari mulutnya. Hanya satu syarat yang diajukan, Rahman ikut bersama kami di dalam taksi tersebut.
      Sepanjang perjalanan pulang, tak ada percakapan di antara kami. Setelah sampai di rumah Masku, Rahman melanjutkan perjalanannya dengan taksi yang sama.
      “Lin, matur nuwun ya udah jemput Salim.” Ibu Hanna memberikan sedikit oleh-oleh yang dibawa Masku.
      “Sama-sama bu,” kataku. “Salam untuk Mas Salim ya bu, Lina pamit dulu.”
***
Dek, jika sesuatu terjadi pada mas yang menyebabkan rusaknya wajah mas, apakah adek tetap mencintai mas?
Mas ingin menjaga kesucian adek, yang selama ini kita lakukan belum tentu mendatangkan ridha Allah, Mas takut malah sebaliknya. Coba pikirkan, kalau adek menikah dengan pria yang sudah pernah berpacaran dengan orang lain, bagaimana perasaan adek?
            Pesan singkat itu dikirimkan Masku semalam. Sudah jelas ada yang berbeda dengannya. Sebelum berangkat mondok, Masku masih bersikap normal. Kami sudah menjalin hubungan cukup lama. Bahkan kami sudah saling mengenal sejak kecil.
            Mas ingin menjaga kesucian adek, yang selama ini kita lakukan belum tentu mendatangkan ridha Allah, Mas takut malah sebaliknya. Kalimat itu terus terngiang olehku. Benarkah begitu? Apa yang sudah aku perbuat sehingga Allah tidak meridhai hubungan kita?
            Apakah sebuah dosa apabila saling mencintai? Apakah sebuah kesalahan menaruh harapan kepada seorang pria? Bukankah Mas sendiri yang selama ini menjanjikan harapan padaku?
            Bagaimana aku harus mengerti semua ini Mas?
            “Lin, sudahlah lupakan saja si Salim itu. Masih banyak pria lain yang jauh lebih baik daripada dia.” Ibuku membuyarkan lamunanku. “Minggu depan Airlangga akan berkunjung kemari. Kau persiapkan semuanya baik-baik. Ibu dan ayahmu yakin dia yang paling pantas untuk kamu. Tak usah mengharapkan yang tidak jelas.”
***
            Siang itu aku sibuk menyiapkan kejutan untuk Masku. Hari ini ulang tahunnya yang kedua puluh lima. Aku pikir ini kesempatan bagus untuk dapat berkunjung kerumahnya. Sudah dua minggu ini ia tidak memberikan kabar. Tak seperti biasanya. Sewaktu SMA, kami selalu berdua dan bersama kemanapunnaik motor bersama, nonton bersama, ngaji bersama, mengerjakan PR bersama. Dia yang selalu memberikan seribu alasan agar aku berbaik sangka terhadap apapun, dia yang memadamkan emosiku dan mengerti segala kekuranganku. Tapi sekarang? Sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat.
            Setibanya di rumah Masku, bu Hanna menyambut dengan hangat.
            “Neng Lina, tumben jarang main kesini?” sapanya. “Waah repot-repot segala. Kalau kesini nggak usah bawa apa-apa nduk.” katanya seraya tersenyum
            “Nggak papa bu. Mas Salimnya ada?” tanyaku
            Senyum bu Hanna seketika hilang. “Salim sedang cari kerja Lin, sama Rahman. Dari pagi tadi. Mau ditunggu? Mungkin sebentar lagi dia pulang.”
            Cari kerja? Saat hari ulang tahunnya?
            Masku memang berasal dari keluarga yang mandiri dan pekerja keras. Dia anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakak pertamanya merantau ke Malaysia dan tidak pernah kembali. Kabarnya sudah berkeluarga di sana, namun masih sering mengirimkan uang hampir tiap bulan untuk keluarganya di Indonesia. Kakak keduanya diajak bekerja di kapal pesiar oleh kenalan Ayahnya. Sampai saat ini ia tak pernah memberikan kabar. Terakhir kali terdengar kabar sedang berada di kapal pesiar Sun Princess di daerah Bali. Itupun sudah empat tahun yang lalu.
            Masku juga seorang anak yatim, Ayahnya meninggal sepuluh tahun yang lalu. Karena alasan itulah kedua kakaknya pergi merantau untuk membantu keuangan keluarga mereka.
“Bu, ingat nggak kalau hari ini Mas Salim ulang tahun?” tanyaku mengingatkan.
            “Ndak Lin,” jawabnya. “ooiya... 10 November ya?”
            “Betul bu, ini Lina bawakan kue tart untuk Mas Salim, semoga Mas suka ya bu.” kataku sambil tersenyum.
            Nyatanya, Masku pulang larut malam. Ia langsung masuk kamar tanpa mengucapkan sepatah katapun. Hanya salam, cium tangan ibu dan sedikit senyum untukku. Kejutan yang kubuat semuanya sia-sia. Ucapan selamat ulang tahun dariku tidak digubrisnya, bahkan dia tidak mau menjabat tanganku. Bu Hanna segera menyusul ke kamarnya. Tak berapa lama, beliau keluar dengan membawa sesuatu.
            “Ini untukmu Lin, dari Salim” Bu Hanna menyodorkan pemberian dari Masku.
            Kubuka bungkusan plastiknya.
Buku?
            Tiga buah buku berjudul Menjadi Muslimah Kaffah, Di Balik Kemuliaan Jilbab dan Pacaran Islami?
***
            Malam bulan purnama. Langit terang benderang. Namun hatiku suram. Perasaanku bercampur aduk. Masku yang sangat paham dengan kebiasaanku yang tidak suka membaca, hari ini memberiku buku. Tidak tanggung-tanggung, tiga buku sekaligus.
“Lin, ini foto Airlangga. Tampan kan? Kamu pasti nggak nyesel dengan pilihan ibumu.” Ibuku menyodorkan sebuah foto, laki-laki gagah, berperawakan tinggi dan besar. Memakai jas hitam, sedang duduk membelakangi papan bertuliskan “KANTOR ADVOKAT & KONSULTAN HUKUM AIRLANGGA”. Airlangga—seorang pengacara yang akan dijodohkan denganku, besok akan melamarku secara resmi. Tak kuasa untuk menolak keinginan orangtuaku. Apakah ini yang disebut jodoh?
Walaupun sudah lama berpacaran dengan Mas Salim, tak sekalipun Ibu dan Ayahku menyetujuinya. Seringkali kami keluar tanpa sepengetahuan Ibu dan Ayah. Berbanding terbalik dengan Ibu Hanna yang amat peduli padaku.
Tapi, saat ini Masku sudah berubah. Rasanya percuma untuk mengharapkan dia kembali seperti dulu.
            Kubuka sebuah buku yang diberikan olehnya, berjudul Pacaran Islami? Beberapa halaman sudah dilipat, bahkan sudah ditandai berwarna.
            Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: ‘Apabila laki-laki dan perempuan yang bukan mahram berduaan, maka yang ketiga adalah setan.’ begitu bunyi salah satu kutipan di buku Pacaran Islami? yang sudah ditandai dengan stabilo.
            Jadi ini salah satu sebab Masku tidak mau berduaan denganku lagi? Terjawab sudah mengapa dia selalu menghindar dariku. Ketika naik taksi, dia minta ditemani oleh Rahman, jelas karena tidak ingin duduk berdua denganku di kursi belakang. Setelahnya tak pernah dia mengunjungiku.
            Dari Abu Hurairah R.A. bahwa Rasulullah SAW. telah bersabda yang artinya, Kedua mata itu bisa melakukan zina, kedua tangan itu bisa melakukan zina, kedua kaki itu bisa melakukan zina (HR Bukhari & Muslim)’
Kedua mata zinanya memandang, kedua telinga zinanya mendengar, lidah zinanya bergunjing, tangan zinanya memaksa, kaki zinanya melangkah dengan hati yang berhasrat, berharap dan berangan-angan..... (HR Bukhari)
Membaca kutipan-kutipan tersebut membuatku merinding. Benarkah demikian?
Sesungguhnya Rasulullah tidak pernah berjabat tangan dengan wanita ketika berbaiat.’ (HR. Ahmad)
Lebih baik memegang bara api yang panas dari pada menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya. (HR. ath-Thabrani).
Pantas Mas Salim tidak mau membalas jabat tanganku ketika mengucapkan selamat ulang tahun.
            Beralih ke buku Di Balik Kemuliaan Jilbab, beberapa yang ditandai Masku:
            ‘Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” (Q.S. Al Ahzab:59)’
‘ .....dan janganlah menampakkan perhiasan mereka.... (Q.S. An Nur:31)’
            ‘dan kaum wanita yang berpakaian tetapi telanjang (karena pakaiannya tipis dan tembus pandang), kepala mereka seperti punuk unta yang miring, mereka tidak akan masuk syurga... (HR. Muslim)
            ‘Islam tidak merendahkan kaum wanita, Islam menjaga hak-hak wanita, melindungi dan menjunjung tinggi harkat wanita’
Kubolak-balik halaman demi halaman. Secarik kertas terjatuh dari tengah buku Menjadi Muslimah Kaffah. Selembar kertas yang dilipat dua. Kubuka lipatannya.  

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Dek, maafkan sikap mas yang pasti membuatmu bingung. Mas tidak berubah sama sekali. Perasaan mas masih sama seperti dulu. Namun mas butuh waktu untuk merenung dan menentukan sikap yang terbaik untuk kita. Saat ini mas belum mempunyai mata pencaharian. Sebagai kepala keluarga nantinya, minimal mas harus sudah bekerja untuk menghidupi kita berdua kelak. Mas tidak mau menjadi beban dalam keluarga.
Disamping itu, mas masih perlu banyak memperdalam ilmu keislaman, seperti yang pernah mas sampaikan lewat SMS, masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang perlu mas pelajari agar kita tidak salah jalan. Adek tidak mau kan kalau kita melakukan perbuatan yang dilarang syariat? Untuk itu, mas harap adek mau mengerti dan sama-sama belajar mendalami Islam.
Ini mas belikan beberapa buku keislaman yang mas harap sesuai dengan kebutuhan adek. Dibaca yaa :)
Oiya, mas mau manyampaikan syair di bawah ini untuk adek:
Dikedalaman hatiku tersembunyi harapan yang suci
Tak perlu engkau menyangsikan
Lewat kesalihanmu yang terukir menghiasi dirimu
Tak perlu dengan kata-kata
Sungguh walau kukelu tuk mengungkapkan perasaanku
Namun penantianmu pada diriku jangan salahkan
Kalau memang kau pilihkan aku
Tunggu sampai aku datang nanti
Kubawa kau pergi kesyurga abadi
Kini belumlah saatnya aku membalas cintamu
Nantikanku dibatas waktu*

Tunggu mas ya dek :)

*Note: lirik nasyid edCoustic, kesukaan Mas waktu di pondok, hehehe

Mas, maafkan aku ya atas kebodohanku selama ini. Aku salut dengan kegigihan Mas untuk belajar. Terima kasih banyak atas hadiah bukunya. Semoga lewat hadiah ini Lina bisa mendapatkan hidayah. Doakan Lina ya Mas.
            SEND

Mas selalu mendoakan yang terbaik untuk adek. Maafkan Mas juga ya sudah mengecewakanmu hari ini. Ketahuilah dek, ulang tahun bukan momen yang patut kita rayakan, tapi selayaknya kita renungkan karena umur kita semakin berkurang. Ulang tahun sama sekali tidak memiliki akar sejarah dalam Islam. Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk ke dalam golongan mereka. Lebih baik berhati-hati ya dek.

            Bijak sekali kata-kata Masku. Ya Allah sang pencipta hati, teguhkanlah hati hamba. Persatukan kami yang mencintai karena-Mu. Sesungguhnya hanya Engkau yang mengetahui mana yang terbaik untuk hambanya. Jangan uji hamba dengan sesuatu yang tidak sanggup hamba jalani. Berikanlah yang terbaik untuk kami ya Rabb. Amin.
***
            Hari ini Airlangga berkunjung ke rumah bersama kedua orangtua dan kerabatnya. Ibu dan Ayahku sangat bersemangat menyambut mereka. Beberapa kali Ibu menyuruhku untuk bergabung ke ruang tamu, tapi aku menolak. Sampai Ayahku ikut turun tangan, ia berkeras menyuruhku untuk menemui Airlangga. Setelah debat yang cukup alot dengan mereka, akhirnya aku bersedia untuk membawakan suguhan ke ruang tamu. Hanya itu. Setelah membawakan minuman dan beberapa kue, aku balik mengunci diri di dalam kamar.
            Tak berapa lama, handphoneku berdering. Mas Salim? Kulihat nomor Masku disela bunyi dering panggilan masuk. Tidak mungkin Masku menelepon. Perasaanku berubah gembira seketika.
            “Assala... mu... alaikum Lin...” Suara Bu Hanna terdengar serak.
            “Wa’alaikumsalam. Ada apa bu? Suara Ibu kok serak begitu?” tanyaku khawatir
“Salim Lin.... Sa.. lim... kece... la.. kaan...”
Astaghfirullahaladziem
“Ibu dimana sekarang? Baik bu, Lina segera kesana.”
Air mataku mengalir, tubuhku serasa tak bisa digerakkan. Inikah jalanMu Tuhan?
***
Sudah sejam Masku berada di ruang UGD. Hanya aku yang mendampingi Bu Hanna, karena tidak ada keluarga lainnya yang tinggal di Jakarta. Kudengar dari Ibu bahwa Masku terserempet truk kontener. Motor yang dikendarainya masuk lubang dan rencananya hari ini ada panggilan interview kerja untuk Masku.
Kami tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruangan. Berkali-kali aku menguatkan Ibu agar tidak menangis, padahal aku sendiri amat tertekan. Tak lama kemudian salah satu dokter keluar mengabari kami.
“Dia sudah sadar, tapi butuh istirahat. Kondisinya cukup parah. Ada memar dan luka robek di bagian kepala. Dikhawatirkan beliau mengalami gegar otak. Setelah ini masih ada beberapa tahap lanjutan.”
      Ya Rob, Yassir wa la tuassir. Permudahkanlah ya Rabb. Sembuhkan Masku.
***
            Esoknya, berita mengejutkan kembali kudengar. Kantor Advokat & Konsultan Hukum Airlangga digerebek polisi. Beberapa asisten ditahan dan dimintai keterangan terkait dugaan kasus suap Airlangga dengan beberapa pejabat pemerintah. Airlangga sendiri melarikan diri dan masih belum diketahui keberadaannya.
            Allah Maha Adil. Di tengah musibah yang melanda, Dia memberikan jalan keluar untukku. Kini Ibu dan Ayah lebih menerima hubunganku dengan Mas Salim walaupun kondisinya belum membaik.
            Kami berempat—aku, Ibu dan Ayahku serta Ibu Hanna—dipanggil menghadap ke ruang ICU. Dokter yang menangani semalam menjelaskan bahwa Masku menderita amnesia. Gegar otak yang dialaminya cukup parah dan sekarang dia tidak ingat siapa-siapa. Butuh perawatan yang cukup lama agar ingatannya dapat pulih kembali. Beberapa bulan ke depan aku rutin membimbing Masku untuk mengenal kembali dirinya.
Kalau memang kau pilihkan aku
Tunggu sampai aku datang nanti
Kubawa kau pergi kesyurga abadi
Aku akan selalu menunggumu Mas. Kita perdalam sama-sama dien yang indah ini. Allah sudah merencanakan yang terbaik untuk kita. Inna ma’al usri yusro. Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan. Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik di mata Allah dan apa yang menurut kita buruk, belum tentu buruk di hadapan-Nya. Allah punya rencana indah.
Kini belumlah saatnya aku membalas cintamu
Nantikanku dibatas waktu            
***


Aidan Adnan - Mei 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar