Rabu, 25 Maret 2015

SAFARNAMA PULAU SERIBU DEWA


“Nggak mungkin! Dilihat dari sisi manapun tetap saja beda,” kataku terperangah di tengah-tengah keramaian Bandara Soekarno Hatta, menatap bergantian antara selembar KTP dengan sosok mungil yang menggenggamnya. Ayusalah seorang rekan kantor yang berumur 19 tahun harus menerima kenyataan bahwa malam itu dirinya menjelma sebagai wanita paruh baya berusia lebih dari 30 tahunan, berakting seakan-akan wajah di KTP yang berambut pendek itu adalah dirinya, padahal kepalanya sendiri tertutup hijab rapat-rapat. Dia merupakan salah satu korban tukar penumpang dengan rekan kami yang berhalangan ikut malam itu. Khawatir tiket yang mubadzir, maka ia pun setuju untuk menggantikannya.
            Aku dan tujuh belas rekan lainnya berjejalan menuju gerbang verifikasi seraya memegang boarding pass dan KTP masing-masing. Baliitulah tujuan kami. Libur panjang akhir pekan ini sudah kami rencanakan jauh hari. Ajang melepas penat sekaligus silaturahim dengan rekan dari beberapa departemen berbeda, bahkan satu-dua alumni perusahaan yang sudah menjadi entrepreneur pun ikut serta dalam petualangan ini.
            Lepas pukul sembilan malam, pesawat yang kami tumpangi bertolak menuju Pulau Dewata. Sayangnya, Ayu dan dua rekan lainnya tak berhasil menembus barikade petugas verifikasi yang cermat. Akhirnya, dengan terpaksa kamipun pergi tanpa mereka. Inilah catatan perjalanan kami. Inilah Safarnama.
ᵮᵮᵮ
            Aku berjalan cepat, setengah berlari mengejar rombongan jauh di depan. Beberapa langkah ke belakang, seekor anjing mengendus membayangiku. Di Bali, anjing laksana kucing liar Jakarta, banyak berkeliaran dimana-mana. Dielus, dipangku, dipeluk, diusap, digendong, dicium, bahkan disuapi. Padahal anjing jelas-jelas haramditilik dari segi agama maupun kesehatan, lebih banyak mudharat ketimbang manfaatnya. Bukan berarti Islam tak mempunyai kasih sayang terhadap hewan yang satu ini. Tengoklah kisah pelacur yang masuk syurga karena memberi minum anjing yang kehausan. Bukankah kisah tersebut merupakan ibroh bahwa menyayangi anjing itu tidak salah? Barangsiapa yang memelihara anjing, kecuali untuk menjaga ternak atau berburu, maka akan dikurangi amalnya setiap hari sebanyak dua qirath(1).
            Destinasi pertama, kami mengunjungi Goa Gajah—gua buatan yang berfungsi sebagai tempat peribadatan. Di ambang gua nampak pahatan wajah raksasa yang menyeramkan dengan mata bulat melirik ke arah kanan, lengkap dengan deretan gigi taringnya. Dupa dimana-mana. Bau kemenyan menusuk disetiap hembusan napas, disertai kumpulan sesajen berjejer berwadah pelepah daun pisang yang berbentuk kotak-kotak. Konon, seorang anak kecil yang sengaja melangkahi sesajen itu, esoknya jatuh sakit ditambah tak bisa buang air selama berhari-hari. Menurut mereka, Dewanya marah. Menurutku setanlah yang marah.
            “Mas, nanti kita Shalat Jumat dimana?” tanyaku pada seorang rekan yang sudah hafal seluk-beluk Bali.
“Waah di sini mah nggak ada masjid Mas, dijamak saja nanti di penginapan,” ujarnya santai.
Astaghfirullahaladziem. Hari pertama sudah meninggalkan Shalat Jumat yang notabene wajib bagi setiap muslimin. Mau tak mau diganti dengan Shalat Zuhur, itupun dilakukan di dalam mobil. Oalaah. Seketika muncul rasa tidak bersemangat. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap(2). Aku terngiang sebuah ayat. Di manapun kita berpijak, masih di bumi Allah. Jadi bertasbih dan bertahmidlah di manapun kita berada.
Menelusuri Goa Gajah, yang terlihat hanyalah kumpulan Arca dan Stupa yang terkesan mistis. Memasuki lambung gua, jauh terasa lebih angker. Asap kemenyan menghalangi pandangan. Udara lembab, bulu kuduk pun merinding. A'udzu bi kalimatillahit tammah min syarri ma khalaq. Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakan-Nya.
ᵮᵮᵮ
Haluan berikutnya yaitu Pura Besakih. Usul seorang kawan, katanya hari ini sedang dilaksanakan upacara. Seharusnya suasana ramai. Benar saja, jalan menuju Pura Besakih disesaki gerombolan penduduk yang membawa wadah berisi berbagai jenis hasil alam. Kumpulan keluarga berbondong-bondong menghadiri upacara. Tegur sapa dan silaturahim dengan keluarga lain yang mengenakan pakaian adat Hindu nampak seperti perayaan Idul Fitri buatku. Bedanya mereka membawa sesajen, beras dan hasil tumbuh-tumbuhan lainnya sebagai wujud syukur untuk diserahkan pada Dewa di balik Gunung Agung yang dipercaya sebagai pusat Pemerintahan Alam ArwahAlam Para Dewata. Batinku perih. Di tengah banyaknya masyarakat yang menderita kelaparan, mereka membuang karunia Allah begitu saja menjadi onggokan sampah dan bangkai makanan.
Menuju Pura, di kanan-kiri jalan bertebaran warung makan bagai Wartegnya Jakarta. Alih-alih ayam ataupun ikan goreng, yang terlihat adalah sajian babi panggang merah kecoklatan yang terpampang di setiap warung beralaskan nampan besar. Perutku mual, menjalar naik ke kepala, yang diikuti rasa ingin muntah kala melihat hidangan-hidangan tersebut. Tak ayal, napas sering kutahan ketika melewati warung-warung itu dimana asap babi yang baru matang mengudara kemana-mana.
Kondisi sangat ramaipedagang, turis, tour guide, tukang foto berkeliaran dimana-mana, ditambah anjing yang berlari kesana-kemari. Jalan masuk pura berbentuk puluhan undakan tangga yang diapit barisan patung dewa memakai kain warna-warni menutupi tubuh bagian bawah, namun bagian atasnya terbuka. Bertudung payung merah, putih dan kuning serta mengenakan penutup kepala. Beberapa patung itu tampak gompal. Aku heran, bagaimana bisa mereka bergantung dan menyerahkan nasib kepada patung-patung yang bahkan tak bisa memakai kain sendiri? Yang tak bisa berteduh saat terik matahari menyengat? Yang dipayungi ketika kehujanan? Yang wajah dan permukaannya gompal akibat terpaan siklus pergantian cuaca? Bagaimana mungkin mereka memohon perlindungan kepada benda yang tak bisa melindungi dirinya sendiri? Bagaimana mereka meminta ketenangan kepada Dewa-Dewi yang terlihat menyeramkan, bahkan lebih seram daripada Genderuwo? Yang tak bisa menenangkan orang yang memandangnya apalagi menggantungkan hidup kepadanya? Sungguh Ironi.
Cahyo, ajarin dong caranya shalat di mobil?” pinta seorang teman ketika kami berpindah menuju destinasi berikutnya. Memang, sudah beberapa kali ini dia memperhatikanku melaksanakan shalat diam-diam di deretan kursi belakang.
“Gampang kok. Kalau nggak punya wudhu, cukup tayamum saja. Lalu laksanakan sambil duduk dan lakukan sedikit pergerakan sebagai isyarat pergantian gerakan shalat. Nggak perlu berdiri apalagi sujud sungguhan, lagian nggak mungkin kan di mobil yang padat ini kita bisa bebas berdiri dan sujud?” jawabku dengan tersenyum.
Gapapa tuh, Yo? Yakin shalatnya sah?” tanyanya lagi.
“Tenaaang, Allah itu nggak mempersulit hambanya untuk beribadah. Insya Allah sah, yang terpenting bagaimana niatnya,” kataku seraya menunjuk ke arah dada. Sebagai musafir kami terpaksa melakukan hal ini walau hati kecilku sebenarnya merasa berdosa.
ᵮᵮᵮ
Esoknya kami menuju Pura Uluwatusitus yang terkenal akan monyetnya yang beringas. Apabila seseorang membawa makanan, mereka rebut. Memotret, mereka terkam. Memakai kacamata, mereka curi. Jangan pernah sekali-kali mengenakan sesuatu yang mencolok atau tanggung sendiri akibatnya.
Cahyo, Shalat Ashar dulu sana,” tunjuk seorang rekan ke sebuah pos kecil di samping loket masuk. Shalat? Dimana? tanyaku dalam hati. Mana mungkin tempat seperti ini menyediakan ruang shalat meski sekadar Langgar ataupun Mushala? Tak dinyana, ganasnya monyet-monyet Uluwatu sangat bertolak belakang dengan para pengelolanya yang nampak ramah dan bersahabat. Rombongan kami dipersilakan untuk menunaikan shalat di sebuah petak pos penjagaan. Di dalam pondok kecil yang terdapat beberapa patung mini dan lukisan Dewa inilah kami menunaikan jamak takhir Zuhur dan Ashar.
Selesai melakukan jamak takhir di pos Uluwatu, kami melesat menyusuri Jalan Legian. Sabtu malam kami berfoto di Monumen Bom Bali atau yang dikenal dengan sebutan Monumen Ground ZeroTugu yang bertuliskan nama-nama korban bom Bali tahun 2002 silam. Lupakan suasana Jakarta. Di sini, atmosfer terasa bagai Las Vegas. Sepanjang jalan yang ada hanya dentam-dentum hingar-bingar musik diskotek yang ramai. Simpang-siur turis bule yang mengenakan pakaian you-can-see-nya, berlalu tanpa risih sedikitpun.
Dancer diiringi DJ merupakan menu wajib tempat ini. Makin malam makin menggila. Aku melihat turis yang menggandeng pasangannya sambil bercanda. Layar LCD di depan sebuah bar menunjukkan suasana remang-remang yang dipenuhi tubuh meliuk-liuk di tengah kepulan asap. Wanita menari-nari dipertontonkan puluhan pria yang tengah menenggak alkohol, memuaskan syahwat duniawi mereka tanpa sadar bahwa ajal bisa datang menghampiri kapan saja.
“Kalau mau sampai tengah malam, tuh cewek ampe nggak pake apa-apa narinya,” kata seorang rekan yang hobi traveling. “Mau liat nggak?”
Wajar saja jika dibom, batinku. Bukan maksud membenarkan pelaku pemboman, namun apa yang nampak sudah sangat tidak bermoral. Belasan polisi berjaga-jaga di beberapa sudut, seperti sedang mengamankan Tabligh Akbar menjelang hari raya Idul Fitri.
Barang siapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah mengubah dengan tangannya. Apabila tidak mampu, maka hendaknya dengan lisannya. Apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman(3). Ya Rabb, maafkan hamba yang tidak bisa berbuat apa-apa di tengah kemaksiatan yang merajalela.
Perjalanan ini bukanlah sekadar mengagumi keindahan panorama eksotis Bali saja. Perjalanan ini hakikatnya menjadi ekskursi pengingat diri bahwa di tengah kondisi apapun, ibadah harus tetap dilaksanakan. Berdiri, duduk atau berbaring sekalipun. Tak ada masjid, hamparan bumi yang luas dijadikan tempat bersujud. Kelak langitpun akan bersaksi mengenai kesungguhan iman kita. Safarnama ini selayaknya memberikan ibroh yang sangat dalam untukku, karena merugilah bagi kaum yang tidak bisa mengambil pelajaran.
Bye Bali. Selamat tinggal Pulau Seribu Dewa. Sayonara....
ᵮᵮᵮ

1.      HR. Bukhari, no. 5163, Muslim, no. 1574
2.      QS. Al-Baqarah ayat 22
3.      HR. Muslim


Senin, 16 Maret 2015

PINTAR TAPI BODOH?

Saat sedang berbincang tentang Islam dengan seorang anak SD rekan kerja-nya, Abdullah tersentak dengan pertanyaan sang Anak.
Anak : “Om, kata Oom kan Islam itu agama untuk orang-orang yang berfikir,, hanya orang pintar yang menjalankan Islam dengan Khaffah”
Abdullah : “Benar,, Oom bilang begitu,, kenapa memangnya?”
Anak : “Loch,, kok Einstein gak masuk Islam Om?”
Abdullah pun terdiam sebentar mencoba memahami logika sang Anak, lalu menjawab :
Abdullah : “Menurut kamu, Oom pintar gak?”
Anak : “Hmmn,,,, Pintar” (Alhamdulillah masih dianggap pintar batin Abdullah,,, tapi Ini anak ya,, jawab begitu aja pake mikir dulu,,,) :D
Abdullah : “Tapi kok Oom gak ngerti apa-apa tentang Kimia ya? Oom juga bodoh loch soal fisika? Apalagi Geografi, kenapa ya?”
Anak : “Ya karena Oom gak belajar tentang itu” Tukas sang anak cerdas ini dengan cepat.
Abdullah : “Kenapa Oom gak belajar?” Kejar Abdullah
Anak : “Lah,, justru itu,, kenapa Oom gak belajar?” Balas sang anak
Abdullah : “Kalau Oom gak belajar karena Oom gak tertarik sama Kimia/ Fisika sebagaimana Oom tertarik dengan ekonomi, jadi Oom gak meluangkan waktu ke sana”
Anak : “Hmn,,, berarti Einstein gak tertarik dengan Islam ya Om?”
Abdullah : “Einstein bukan tidak tertarik dengan Islam Nak,, tapi Einstein tidak tertarik pada Kebenaran Akhirat, dia mungkin gak percaya sama Akhirat karena dia terlalu bersandar pada logika-nya, sehingga dia malas mengerahkan waktunya untuk mencari kebenaran akhirat, yang ujung-ujungnya menyebabkan dia menjadi satu golongan dengan orang-orang yang bodoh di akhirat,, sebagaimana oom juga akan masuk ke dalam golongan orang-orang yang bodoh saat berkumpul dengan para sarjana Fisika dan Kimia” Jelas Abdullah.
Anak : “Hmmn,,, gitu ya Om”
Abdullah : “Itu menurut Oom,, kalau kamu sependapat silahkan ambil, tapi kalau punya pendapat yang lebih baik ayo kita diskusikan lagi,, jadi kamu mau ngumpul sama Einstein gak di akhirat,, dipuji pintar di dunia oleh Manusia, tetapi dihinakan Allah bersama orang-orang bodoh di akhirat”.
Anak : “Kagak Ah,, aku maunya pintar di dunia, dan dipuji Allah di Akhirat”
Abdullah : “Wah, hebat dong,,, berarti kamu harus belajar Ilmu Dunia dan gak boleh menduakan ilmu Akhirat,,, susah sih,,, tapi kalau kamu sih,,, Oom yakin kamu pasti bisa,,, tinggal mau atau kagak aja,,, mau gak?”
Anak : “Mau Om”
Dan selanjutnya mereka kembali mengaji sambil bercanda,, eh, atau bercanda sambil mengaji karena kebanyakan becandanya,,,
Ya pokoknya hari itu Abdullah disadarkan oleh sahabat kecil-nya bahwa kita ini manusia, hanya Allah lah yang Maha Mengetahui dan Maha Berilmu, kita memiliki keterbatasan dalam belajar dan mustahil bisa menguasai segala-nya, karena bahkan Einstein yang telah berhasil mengaktifkan 15% kemampuan potensial otak manusia,, tetap gagal memahami Ilmu Allah hanya karena kesalahan memilih prioritas Ilmu,,, apalagi kita yang mungkin Cuma bisa mengaktifkan 5% kemampuan potensial kita,,, maka mulailah menentukan prioritas Ilmu kita,,, yang pasti Prioritas satu adalah Ilmu Akhirat,, untuk prioritas dua dan seterusnya dikembalikan kepada kita.
Semoga Allah menganugerahi kita Ilmu yang bisa memuliakan kita di dunia dan akhirat sebagaimana Ilmu yang Allah berikan kepada Ayahanda kita tercinta Nabi Adam AS yang menyebabkan para Malaikat bersukarela bersujud kepada beliau atas perintah Allah.

Maka sudahkah kita memutuskan ilmu prioritas kita? 

Sabtu, 07 Maret 2015

JAVA NASYID FESTIVAL?

Pekan ini, teman-teman kantor ramai membicarakan Festival Java Jazz 2015 yang biasa diselenggarakan di JIEXPO Kemayoran. Siapa sih yang tidak kenal dengan Festival musik yang satu ini? Bagai ajang reuni musisi dalam dan luar negeri, semua berkumpul untuk memuaskan dahaga para pecinta musik tanah air maupun mancanegara. Sekonyong-konyong muncul pertanyaan di benak saya, mungkinkah diselenggarakan acara serupa dengan tagline yang berbeda, misalnya Jakarta International JAVA NASYID FESTIVAL?
                Sekilas mungkin terdengar aneh, tetapi sebagai pecinta nasyid, ingin sekali rasanya even seperti ini dapat diselenggarakan suatu saat nanti. Bukan tidak mungkin kelak nasyid dapat menjadi musik alternatif di Indonesia. Mengapa disebut musik alternatif? Bagi saya pribadi, tidak setuju jika nasyid hanya dianggap sebagai musik dengan tabuhan rebana yang konvensional dan membosankan. Kualitas nasyid saat ini tak jauh berbeda dengan lagu-lagu general di tanah air. Genrenya pun sudah meluas. Tak hanya Nasida Ria dengan lagu Perdamaian-nya ataupun Raihan dengan lagu Demi Masa-nya, nasyid masa kini sudah merambah luas ke ranah pop, dangdut, rock, bahkan rap dan hiphop. Coba saja tengok Doa dan Harapan dari The Fikr, tim nasyid asal bandung yang dengan kreativitasnya melahirkan sebuah nasyid dangdut yang meledak. Atau coba dengar nasyid hiphop Thufail Al-Ghifari yang sarat makna. Atau Jalanku dari tim nasyid NANDA yang menyebut dirinya sebagai Song Solution. Ada lagi Ebith Beat A dengan nasyid-nasyidnya yang nge-BEAT. Bahkan bukan hanya di Indonesia, tapi juga di berbagai belahan dunia, nasyid sudah mulai berkembang dan ramai. Sekali-kali silakan Anda mengunjungi website muslimhiphop.com yang mengompilasi nasyid hiphop dari seluruh dunia.
                Lalu, kalau begitu apa bedanya nasyid dengan musik biasa? Jelas berbeda. Selain menghibur, sudah pasti lirik dari lagu-lagu nasyid mempunyai pesan dan hikmah yang dapat kita petik. Itulah mengapa saya menyebutnya sebagai musik alternatif. Di tengah maraknya lagu-lagu percintaan yang vulgar, nasyid hadir sebagai solusi dan pembelajaran yang mengasyikkan. Seandainya saja nasyid tidak lagi menjadi musik musiman yang hanya dinikmati menjelang bulan Ramadhan.

We stand for peace, in times of war we shan't surrender,
Remember, it didn't start in that dark December,
Every coin is a bullet, if you're Mark's and Spencer,
And when your sipping Coca-Cola,
That's another pistol in the holster of the soulless soldiers,
You say you know about the Zionist lobby,
But you put money in their pocket when you're buying their coffee,
Talking about revolution, sitting in Starbucks,

Paragraf di atas adalah petikan lirik salah satu lagu dari LOWKEY―penyanyi mancanegara yang lagu-lagunya bisa dikategorikan sebagai nasyid. Yang lebih mencengangkan lagi, ada sebuah tim yang salah satu personilnya non-muslim, namun lagu-lagunya sarat makna, bahkan bisa dibilang berkarakteristik Islami. Dialah OUTLANDISH. Trio yang pernah berduet dengan Sami Yusuf ini menyinggung penjajahan Israel ke Palestina seperti yang nampak pada syair dan video salah satu lagunya yang berjudul Look Into My Eyes.

                Aa Gym pernah mengatakan bahwa nasyid adalah salah satu titik sentuh dalam dakwah. Makin luas kita buka titik sentuh dalam berdakwah, maka makin banyak orang yang akan mendapatkan kebaikan, Insya Allah.