Pekan ini,
teman-teman kantor ramai membicarakan Festival Java Jazz 2015 yang biasa
diselenggarakan di JIEXPO Kemayoran. Siapa sih yang tidak kenal dengan Festival
musik yang satu ini? Bagai ajang reuni musisi dalam dan luar negeri, semua
berkumpul untuk memuaskan dahaga para pecinta musik tanah air maupun
mancanegara. Sekonyong-konyong muncul pertanyaan di benak saya, mungkinkah
diselenggarakan acara serupa dengan tagline yang berbeda, misalnya Jakarta International JAVA NASYID FESTIVAL?
Sekilas mungkin terdengar aneh, tetapi sebagai
pecinta nasyid, ingin sekali rasanya even seperti ini dapat diselenggarakan
suatu saat nanti. Bukan tidak mungkin kelak nasyid dapat menjadi musik
alternatif di Indonesia. Mengapa disebut musik alternatif? Bagi saya pribadi,
tidak setuju jika nasyid hanya dianggap sebagai musik dengan tabuhan rebana
yang konvensional dan membosankan. Kualitas nasyid saat ini tak jauh berbeda
dengan lagu-lagu general di tanah air. Genrenya pun sudah meluas. Tak hanya Nasida
Ria dengan lagu Perdamaian-nya
ataupun Raihan dengan lagu Demi Masa-nya,
nasyid masa kini sudah merambah luas ke ranah pop, dangdut, rock, bahkan
rap dan hiphop. Coba saja tengok Doa dan
Harapan dari The Fikr, tim nasyid
asal bandung yang dengan kreativitasnya melahirkan sebuah nasyid dangdut yang
meledak. Atau coba dengar nasyid hiphop Thufail
Al-Ghifari yang sarat makna. Atau Jalanku
dari tim nasyid NANDA yang menyebut dirinya sebagai Song Solution. Ada lagi Ebith
Beat A dengan nasyid-nasyidnya yang nge-BEAT. Bahkan bukan hanya di
Indonesia, tapi juga di berbagai belahan dunia, nasyid sudah mulai berkembang
dan ramai. Sekali-kali silakan Anda mengunjungi website muslimhiphop.com yang
mengompilasi nasyid hiphop dari seluruh dunia.
Lalu, kalau begitu apa bedanya nasyid dengan musik
biasa? Jelas berbeda. Selain menghibur, sudah pasti lirik dari lagu-lagu nasyid
mempunyai pesan dan hikmah yang dapat kita petik. Itulah mengapa saya
menyebutnya sebagai musik alternatif. Di tengah maraknya lagu-lagu percintaan yang
vulgar, nasyid hadir sebagai solusi dan pembelajaran yang mengasyikkan.
Seandainya saja nasyid tidak lagi menjadi musik musiman yang hanya dinikmati
menjelang bulan Ramadhan.
We stand for peace, in times of war we shan't
surrender,
Remember, it didn't start in that dark
December,
Every coin is a bullet, if you're Mark's
and Spencer,
And when your sipping Coca-Cola,
That's another pistol in the holster of
the soulless soldiers,
You say you know about the Zionist lobby,
But you put money in their pocket when
you're buying their coffee,
Talking about revolution, sitting in
Starbucks,
Paragraf di atas
adalah petikan
lirik salah satu lagu dari LOWKEY―penyanyi mancanegara yang lagu-lagunya bisa
dikategorikan sebagai nasyid. Yang lebih mencengangkan lagi, ada sebuah tim
yang salah satu personilnya non-muslim, namun lagu-lagunya sarat makna, bahkan bisa dibilang berkarakteristik Islami. Dialah OUTLANDISH. Trio yang pernah
berduet dengan Sami Yusuf ini
menyinggung penjajahan Israel ke Palestina seperti yang nampak pada syair dan
video salah satu lagunya yang berjudul Look
Into My Eyes.
Aa Gym pernah mengatakan bahwa nasyid adalah salah satu
titik sentuh dalam dakwah. Makin luas kita buka titik sentuh dalam berdakwah, maka
makin banyak orang yang akan mendapatkan kebaikan, Insya Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar