Sabtu, 07 Maret 2015

JAVA NASYID FESTIVAL?

Pekan ini, teman-teman kantor ramai membicarakan Festival Java Jazz 2015 yang biasa diselenggarakan di JIEXPO Kemayoran. Siapa sih yang tidak kenal dengan Festival musik yang satu ini? Bagai ajang reuni musisi dalam dan luar negeri, semua berkumpul untuk memuaskan dahaga para pecinta musik tanah air maupun mancanegara. Sekonyong-konyong muncul pertanyaan di benak saya, mungkinkah diselenggarakan acara serupa dengan tagline yang berbeda, misalnya Jakarta International JAVA NASYID FESTIVAL?
                Sekilas mungkin terdengar aneh, tetapi sebagai pecinta nasyid, ingin sekali rasanya even seperti ini dapat diselenggarakan suatu saat nanti. Bukan tidak mungkin kelak nasyid dapat menjadi musik alternatif di Indonesia. Mengapa disebut musik alternatif? Bagi saya pribadi, tidak setuju jika nasyid hanya dianggap sebagai musik dengan tabuhan rebana yang konvensional dan membosankan. Kualitas nasyid saat ini tak jauh berbeda dengan lagu-lagu general di tanah air. Genrenya pun sudah meluas. Tak hanya Nasida Ria dengan lagu Perdamaian-nya ataupun Raihan dengan lagu Demi Masa-nya, nasyid masa kini sudah merambah luas ke ranah pop, dangdut, rock, bahkan rap dan hiphop. Coba saja tengok Doa dan Harapan dari The Fikr, tim nasyid asal bandung yang dengan kreativitasnya melahirkan sebuah nasyid dangdut yang meledak. Atau coba dengar nasyid hiphop Thufail Al-Ghifari yang sarat makna. Atau Jalanku dari tim nasyid NANDA yang menyebut dirinya sebagai Song Solution. Ada lagi Ebith Beat A dengan nasyid-nasyidnya yang nge-BEAT. Bahkan bukan hanya di Indonesia, tapi juga di berbagai belahan dunia, nasyid sudah mulai berkembang dan ramai. Sekali-kali silakan Anda mengunjungi website muslimhiphop.com yang mengompilasi nasyid hiphop dari seluruh dunia.
                Lalu, kalau begitu apa bedanya nasyid dengan musik biasa? Jelas berbeda. Selain menghibur, sudah pasti lirik dari lagu-lagu nasyid mempunyai pesan dan hikmah yang dapat kita petik. Itulah mengapa saya menyebutnya sebagai musik alternatif. Di tengah maraknya lagu-lagu percintaan yang vulgar, nasyid hadir sebagai solusi dan pembelajaran yang mengasyikkan. Seandainya saja nasyid tidak lagi menjadi musik musiman yang hanya dinikmati menjelang bulan Ramadhan.

We stand for peace, in times of war we shan't surrender,
Remember, it didn't start in that dark December,
Every coin is a bullet, if you're Mark's and Spencer,
And when your sipping Coca-Cola,
That's another pistol in the holster of the soulless soldiers,
You say you know about the Zionist lobby,
But you put money in their pocket when you're buying their coffee,
Talking about revolution, sitting in Starbucks,

Paragraf di atas adalah petikan lirik salah satu lagu dari LOWKEY―penyanyi mancanegara yang lagu-lagunya bisa dikategorikan sebagai nasyid. Yang lebih mencengangkan lagi, ada sebuah tim yang salah satu personilnya non-muslim, namun lagu-lagunya sarat makna, bahkan bisa dibilang berkarakteristik Islami. Dialah OUTLANDISH. Trio yang pernah berduet dengan Sami Yusuf ini menyinggung penjajahan Israel ke Palestina seperti yang nampak pada syair dan video salah satu lagunya yang berjudul Look Into My Eyes.

                Aa Gym pernah mengatakan bahwa nasyid adalah salah satu titik sentuh dalam dakwah. Makin luas kita buka titik sentuh dalam berdakwah, maka makin banyak orang yang akan mendapatkan kebaikan, Insya Allah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar