“Nggak mungkin! Dilihat dari sisi
manapun tetap saja beda,” kataku terperangah di tengah-tengah keramaian Bandara
Soekarno Hatta, menatap bergantian antara selembar KTP dengan sosok mungil yang
menggenggamnya. Ayu—salah seorang rekan
kantor yang berumur 19 tahun harus menerima kenyataan bahwa malam itu dirinya menjelma
sebagai wanita paruh baya berusia lebih dari 30 tahunan, berakting seakan-akan
wajah di KTP yang berambut pendek itu adalah dirinya, padahal kepalanya sendiri
tertutup hijab rapat-rapat. Dia merupakan salah satu korban tukar penumpang
dengan rekan kami yang berhalangan ikut malam itu. Khawatir tiket yang mubadzir, maka ia pun setuju untuk
menggantikannya.
Aku dan tujuh belas rekan lainnya
berjejalan menuju gerbang verifikasi seraya memegang boarding pass dan KTP masing-masing. Bali—itulah
tujuan kami. Libur panjang akhir pekan ini sudah kami rencanakan jauh hari.
Ajang melepas penat sekaligus silaturahim dengan rekan dari beberapa departemen
berbeda, bahkan satu-dua alumni perusahaan yang sudah menjadi entrepreneur pun ikut serta dalam
petualangan ini.
Lepas pukul sembilan malam, pesawat
yang kami tumpangi bertolak menuju Pulau Dewata.
Sayangnya, Ayu dan dua rekan lainnya tak berhasil menembus barikade petugas verifikasi
yang cermat. Akhirnya, dengan terpaksa kamipun pergi tanpa mereka. Inilah
catatan perjalanan kami. Inilah Safarnama.
ᵮᵮᵮ
Aku berjalan cepat, setengah berlari
mengejar rombongan jauh di depan. Beberapa langkah ke belakang, seekor anjing
mengendus membayangiku. Di Bali, anjing laksana kucing liar Jakarta, banyak
berkeliaran dimana-mana. Dielus, dipangku, dipeluk, diusap, digendong, dicium, bahkan
disuapi. Padahal anjing jelas-jelas haram—ditilik
dari segi agama maupun kesehatan, lebih banyak mudharat ketimbang manfaatnya.
Bukan berarti Islam tak mempunyai kasih sayang terhadap hewan yang satu ini.
Tengoklah kisah pelacur yang masuk syurga karena memberi minum anjing yang
kehausan. Bukankah kisah tersebut merupakan ibroh bahwa menyayangi anjing itu
tidak salah? Barangsiapa yang memelihara
anjing, kecuali untuk menjaga ternak atau berburu, maka akan dikurangi amalnya
setiap hari sebanyak dua qirath(1).
Destinasi
pertama, kami mengunjungi Goa Gajah—gua buatan yang berfungsi sebagai tempat peribadatan.
Di ambang gua nampak pahatan wajah raksasa yang menyeramkan dengan mata bulat
melirik ke arah kanan, lengkap dengan deretan gigi taringnya. Dupa dimana-mana.
Bau kemenyan menusuk disetiap hembusan napas, disertai kumpulan sesajen
berjejer berwadah pelepah daun pisang yang berbentuk kotak-kotak. Konon, seorang
anak kecil yang sengaja melangkahi sesajen itu, esoknya jatuh sakit ditambah
tak bisa buang air selama berhari-hari. Menurut mereka, Dewanya marah.
Menurutku setanlah yang marah.
“Mas, nanti kita Shalat Jumat
dimana?” tanyaku pada seorang rekan yang sudah hafal seluk-beluk Bali.
“Waah di sini mah nggak ada masjid Mas, dijamak saja nanti di penginapan,” ujarnya
santai.
Astaghfirullahaladziem.
Hari pertama sudah meninggalkan Shalat Jumat yang
notabene wajib bagi setiap muslimin. Mau tak mau diganti dengan Shalat Zuhur,
itupun dilakukan di dalam mobil. Oalaah.
Seketika muncul rasa tidak bersemangat. Dialah
yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap(2).
Aku terngiang sebuah ayat. Di manapun kita berpijak, masih di bumi Allah. Jadi
bertasbih dan bertahmidlah di manapun kita berada.
Menelusuri Goa Gajah, yang terlihat
hanyalah kumpulan Arca dan Stupa yang terkesan mistis. Memasuki lambung gua,
jauh terasa lebih angker. Asap kemenyan menghalangi pandangan. Udara lembab,
bulu kuduk pun merinding. A'udzu bi
kalimatillahit tammah min syarri ma khalaq. Aku berlindung dengan
kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakan-Nya.
ᵮᵮᵮ
Haluan berikutnya yaitu Pura Besakih.
Usul seorang kawan, katanya hari ini sedang dilaksanakan upacara. Seharusnya
suasana ramai. Benar saja, jalan menuju Pura Besakih disesaki gerombolan
penduduk yang membawa wadah berisi berbagai jenis hasil alam. Kumpulan keluarga
berbondong-bondong menghadiri upacara. Tegur sapa dan silaturahim dengan
keluarga lain yang mengenakan pakaian adat Hindu nampak seperti perayaan Idul Fitri buatku. Bedanya mereka
membawa sesajen, beras dan hasil tumbuh-tumbuhan lainnya sebagai wujud syukur
untuk diserahkan pada Dewa di balik Gunung Agung yang dipercaya sebagai pusat
Pemerintahan Alam Arwah—Alam Para Dewata.
Batinku perih. Di tengah banyaknya masyarakat yang menderita kelaparan, mereka
membuang karunia Allah begitu saja menjadi onggokan sampah dan bangkai makanan.
Menuju Pura, di kanan-kiri jalan
bertebaran warung makan bagai Wartegnya
Jakarta. Alih-alih ayam ataupun ikan goreng, yang terlihat adalah sajian
babi panggang merah kecoklatan yang terpampang di setiap warung beralaskan nampan
besar. Perutku mual, menjalar naik ke kepala, yang diikuti rasa ingin muntah kala
melihat hidangan-hidangan tersebut. Tak ayal, napas sering kutahan ketika
melewati warung-warung itu dimana asap babi yang baru matang mengudara
kemana-mana.
Kondisi sangat ramai—pedagang,
turis, tour guide, tukang foto
berkeliaran dimana-mana, ditambah anjing yang berlari kesana-kemari. Jalan
masuk pura berbentuk puluhan undakan tangga yang diapit barisan patung dewa
memakai kain warna-warni menutupi tubuh bagian bawah, namun bagian atasnya
terbuka. Bertudung payung merah, putih dan kuning serta mengenakan penutup
kepala. Beberapa patung itu tampak gompal. Aku heran, bagaimana bisa mereka
bergantung dan menyerahkan nasib kepada patung-patung yang bahkan tak bisa
memakai kain sendiri? Yang tak bisa berteduh saat terik matahari menyengat?
Yang dipayungi ketika kehujanan? Yang wajah dan permukaannya gompal akibat
terpaan siklus pergantian cuaca? Bagaimana mungkin mereka memohon perlindungan
kepada benda yang tak bisa melindungi dirinya sendiri? Bagaimana mereka meminta
ketenangan kepada Dewa-Dewi yang
terlihat menyeramkan, bahkan lebih seram daripada Genderuwo? Yang tak bisa menenangkan orang yang memandangnya
apalagi menggantungkan hidup kepadanya? Sungguh Ironi.
“Cahyo, ajarin dong caranya shalat di mobil?” pinta seorang teman
ketika kami berpindah menuju destinasi berikutnya. Memang, sudah beberapa kali
ini dia memperhatikanku melaksanakan shalat diam-diam di deretan kursi
belakang.
“Gampang kok. Kalau nggak
punya wudhu, cukup tayamum saja. Lalu laksanakan sambil duduk dan lakukan
sedikit pergerakan sebagai isyarat pergantian gerakan shalat. Nggak perlu
berdiri apalagi sujud sungguhan, lagian
nggak mungkin kan di mobil yang padat
ini kita bisa bebas berdiri dan sujud?” jawabku dengan tersenyum.
“Gapapa tuh, Yo? Yakin shalatnya
sah?” tanyanya lagi.
“Tenaaang, Allah itu nggak
mempersulit hambanya untuk beribadah. Insya Allah sah, yang terpenting bagaimana
niatnya,” kataku seraya menunjuk ke arah dada. Sebagai musafir kami terpaksa
melakukan hal ini walau hati kecilku sebenarnya merasa berdosa.
ᵮᵮᵮ
Esoknya kami menuju Pura Uluwatu—situs
yang terkenal akan monyetnya yang beringas. Apabila seseorang membawa makanan,
mereka rebut. Memotret, mereka terkam. Memakai kacamata, mereka curi. Jangan pernah
sekali-kali mengenakan sesuatu yang mencolok atau tanggung sendiri akibatnya.
“Cahyo,
Shalat Ashar dulu sana,” tunjuk seorang rekan ke sebuah pos kecil di samping
loket masuk. Shalat? Dimana? tanyaku
dalam hati. Mana mungkin tempat seperti
ini menyediakan ruang shalat meski sekadar Langgar ataupun Mushala? Tak
dinyana, ganasnya monyet-monyet Uluwatu sangat bertolak belakang dengan para
pengelolanya yang nampak ramah dan bersahabat. Rombongan kami dipersilakan
untuk menunaikan shalat di sebuah petak pos penjagaan. Di dalam pondok kecil
yang terdapat beberapa patung mini dan lukisan Dewa inilah kami menunaikan jamak takhir Zuhur dan Ashar.
Selesai melakukan jamak takhir di pos Uluwatu, kami melesat menyusuri Jalan Legian. Sabtu
malam kami berfoto di Monumen Bom Bali atau yang dikenal dengan sebutan Monumen
Ground Zero—Tugu yang bertuliskan
nama-nama korban bom Bali tahun 2002 silam. Lupakan suasana Jakarta. Di sini,
atmosfer terasa bagai Las Vegas. Sepanjang jalan yang ada hanya dentam-dentum
hingar-bingar musik diskotek yang ramai. Simpang-siur turis bule yang mengenakan
pakaian you-can-see-nya, berlalu tanpa
risih sedikitpun.
Dancer
diiringi DJ merupakan menu wajib tempat ini. Makin
malam makin menggila. Aku melihat turis yang menggandeng pasangannya sambil
bercanda. Layar LCD di depan sebuah bar menunjukkan suasana remang-remang yang
dipenuhi tubuh meliuk-liuk di tengah kepulan asap. Wanita menari-nari dipertontonkan
puluhan pria yang tengah menenggak alkohol, memuaskan syahwat duniawi mereka
tanpa sadar bahwa ajal bisa datang menghampiri kapan saja.
“Kalau mau sampai tengah malam, tuh cewek ampe nggak pake apa-apa
narinya,” kata seorang rekan yang hobi traveling. “Mau liat nggak?”
Wajar
saja jika dibom, batinku. Bukan maksud membenarkan
pelaku pemboman, namun apa yang nampak sudah sangat tidak bermoral. Belasan
polisi berjaga-jaga di beberapa sudut, seperti sedang mengamankan Tabligh Akbar menjelang hari raya Idul
Fitri.
Barang
siapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah mengubah dengan
tangannya. Apabila tidak mampu, maka hendaknya dengan lisannya. Apabila tidak
mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman(3).
Ya Rabb, maafkan hamba yang tidak bisa berbuat apa-apa di tengah kemaksiatan
yang merajalela.
Perjalanan ini bukanlah sekadar
mengagumi keindahan panorama eksotis Bali saja. Perjalanan ini hakikatnya
menjadi ekskursi pengingat diri bahwa di tengah kondisi apapun, ibadah harus
tetap dilaksanakan. Berdiri, duduk atau berbaring sekalipun. Tak ada masjid,
hamparan
bumi yang luas dijadikan tempat bersujud. Kelak langitpun akan bersaksi mengenai
kesungguhan iman kita. Safarnama ini selayaknya memberikan ibroh yang sangat
dalam untukku, karena merugilah bagi kaum yang tidak bisa mengambil pelajaran.
Bye
Bali. Selamat tinggal Pulau Seribu Dewa. Sayonara....
ᵮᵮᵮ
1. HR.
Bukhari, no. 5163, Muslim, no. 1574
2. QS.
Al-Baqarah ayat 22
3. HR.
Muslim
Tidak ada komentar:
Posting Komentar