Jumat, 15 Mei 2015

Alone is Nothing, Together is Everything


Setujukah Anda jika penjumlahan 1+1 sama dengan 11? Atau 5+5 sama dengan 50? Mungkin sekilas terlihat aneh, janggal bahkan terkesan membodohi. Tapi inilah fakta apabila kita menerapkannya dalam prinsip kerjasama. Kekuatan seseorang sangatlah terbatas, namun dengan kerjasama kekuatan semakin berlipat ganda. Tak ada yang tak bisa diselesaikan melalui kekuatan tim. Inilah yang disebut the power of team. Lumrah apabila dikatakan satu tambah satu sama dengan sebelas, atau seratus bahkan melebihi itu.
Dalam ruang lingkup pekerjaan, kekuatan tim sangatlah dibutuhkan. Bukan hanya kekuatan individual semata. Hal ini sejalan dengan budaya FIRST dimana Teamwork merupakan salah satu pilar dari budaya perusahaan kita tercinta.
Ketika itu menjelang Ramadhan 2013, Astra International mengadakan sebuah acara bernama Astra Gema Islami—ajang silaturahim antara insan Astra seluruh Indonesia. Rangkaian acara disuguhkan mulai dari tarhib atau persiapan menghadapi bulan suci Ramadhan hingga berbagai kompetisi yang dilaksanakan pasca Ramadhan, yang bertujuan untuk lebih mengakrabkan karyawan Astra dari berbagai lini.
Auto2000 pastinya tak mau ketinggalan untuk berpartisipasi dalam acara ini, salah satunya mengikuti lomba CCIA (Cerdas Cermat Islami Astra) yang saya alami bersama teman-teman. Lomba ini mengadaptasi sebuah kuis di salah satu stasiun televisi swasta, dimana kami harus membentuk tim yang terdiri dari 12 orang, memperagakan yel-yel dan menjawab beberapa pertanyaan seputar Astra dan Keislaman. Auto2000 sendiri mengirimkan dua tim yang berasal dari berbagai departemen dan divisi yang berbeda. Mulai dari Service Dept, Parts & Accessories, ALC, Budget Dept, FDGS dan saya yang merupakan perwakilan dari HCD.
Sungguh kesempatan luar biasa dan momen yang sangat langka untuk berkumpul dan berjuang dengan teman-teman dari berbagai divisi. Walau awalnya kami merasa kesulitan untuk berkoordinasi dikarenakan kesibukan pekerjaan masing-masing, perlahan-lahan kami dapat mengatasinya dan menjadikan perbedaan yang ada sebagai kelebihan dan keunikan dari tim kami.
Persiapan untuk lomba AGI (Astra Gema Islami) ini cukup singkat, yaitu sekitar 3 minggu dari meeting koordinasi pertama. Selain CCIA, beberapa lomba lainnya juga diikuti oleh tim Auto2000 diantaranya Lomba Poster, Murottal, Tahfidz Qur’an dan Syiar Kreatif Astra. Tahun ini memang lebih banyak personil dari pada tahun sebelumnya.
Beberapa kali meeting mingguan dilaksanakan untuk membahas persiapan dan teknis dari AGI 2013, hambatan terbesar masih dari kesibukan masing-masing personil yang notabene berbeda departemen. Untuk mengantisipasi hal itu dibuatlah jarkom. Sebagian personil mengadakan pertemuan di luar meeting reguler yang waktunya menyesuaikan dengan ketersediaan  mereka. Koordinasi via telepon maupun bincang-bincang ringan setelah jam pulang kerja pun sering kami lakukan.
Sampailah pada meeting final tepatnya sehari sebelum acara digelar. Untungnya semua tim hadir pada hari itu. Siang menjelang sore kami memulai persiapan mengenai teknis pelaksanaan lomba. Khusus CCIA kami melakukan role play menjawab soal-soal dari AGI tahun sebelumnya, setelah itu dilanjutkan dengan latihan yel-yel. Berbagai masukan dan usulan pun berdatangan guna memantapkan yel yang akan kami tampilkan nanti. Disaat sebagian tim mendistribusikan seragam, saya bersama seorang rekan meluncur menuju Gramedia Sunter untuk membeli perlengkapan dan atribut. Kemudian selepas ba’da Maghrib kami lanjutkan dengan membuat manik-manik dan logo Auto2000 untuk dipakai pada pementasan yel-yel. Malam itu seluruh tim menunjukkan keseriusan mereka. Walaupun selama ini jarang berkumpul, kami bahu membahu untuk menunjukkan yang terbaik. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sudah pukul sembilan malam saat tim masih berlatih untuk Lomba Syiar Kreatif Astra. Kami mengakhiri latihan menjelang pukul sepuluh. Sistem Kebut Semalam ini bukan semata-mata karena kurangnya persiapan, namun lebih kepada inginnya kami tampil dengan optimal—Strive for Excellence.
Esoknya saya harus bersiap sebelum adzan subuh berkumandang, karena pukul setengah tujuh pagi tim sudah harus menuju Astra International untuk mengikuti opening ceremony. Gladi Resik pun dilakukan. Sepanjang perjalanan menuju gedung Astra International kami berdoa semoga tim tampil lancar dan maksimal. Pelataran gedung AI sudah dipadati oleh ratusan bahkan ribuan peserta dari berbagai AFFCO yang datang dari berbagai penjuru—ada yang memakai kostum cowboy girl ala muslimah, ada yang mengenakan atribut timur tengah serta berbagai kostum unik lainnya. Sorak sorai mereka tidak membuat kami gentar, justru menambah semangat tim yang semakin menggebu-gebu. Kami sadar bahwa saat ini kami sedang mempertaruhkan nama Auto2000 bersaing dengan AFFCO yang lain.
Opening ceremony dihadiri oleh Presdir Astra International, Bapak Prijono Sugiarto beserta jajaran eksekutif Astra lainnya. Setelah acara resmi dibuka, kami berbondong-bondong menuju lantai 8 tempat lomba CCIA dilaksanakan tepatnya di William Soeryadjaja Hall. Saat memasuki ruangan, atmosfer terasa sangat berbeda. Suasana persaingan berbalut kekeluargaan bercampur menjadi satu. Baru saja duduk, kami didatangi oleh beberapa tim lain yang ingin berkenalan. Ternyata ada yang berbeda pada AGI tahun ini, panitia membuat selebaran doorprize yang mengharuskan peserta berkenalan dengan lima peserta lainnya dari AFFCO yang berbeda. Maka sebelum pertandingan dimulai, suasana pun mencair berkat improvement dari panitia—tanpa harus menggunakan ice breaker untuk menghangatkan suasana.
Auto2000 yang mengirimkan 2 tim CCIA mendapatkan giliran berbeda. Saya dan sebelas orang lainnya dari tim yang sama mendapatkan kesempatan di awal. Kami mengumandangkan yel-yel saat naik ke atas panggung, diiringi teriakan ‘Sik Asik Joss’ dari rekan yang lain. Semangat dan kekompakan tim sangat terasa disini, menjadikan ‘Sik Asik Joss’ sebagai tren acara tersebut karena tim AFFCO yang lain tanpa sadar mengikuti teriakan yel-yel kami. Singkat cerita, walaupun kami gagal memenangkan lomba CCIA tapi kami berhasil menjuarai lomba Salam Silaturahim, yaitu yel-yel yang kami lantunkan sebelum cerdas cermat dimulai.
Alone is Nothing but Together is Everything. Saya sadar bahwa kontribusi saya dalam kompetisi ini belumlah seberapa, namun dengan menggabungkan kontribusi dari rekan-rekan yang lain, jadilah tim kami sebagai tim yang solid yang dapat membawa nama harum Auto2000. Selain memenangkan dua medali perak dari Salam Silaturahim dan Lomba Workshop Jurnalistik, kami juga mendapatkan dua medali emas dari Lomba Poster dan Lomba Kabar Ramadhan. Sehingga jika diakumulatif dari perolehan medali, maka Auto2000 akhirnya dinobatkan sebagai Juara Umum AGI tahun 2013 J  
Harapannya semoga kerjasama tim tidak hanya berlaku pada even-even tertentu saja, sudah selayaknya kita mengejawantahkan FIRST dalam keseharian kita. Tanggalkanlah ego dan prestige demi kepentingan tim. Ibarat sebuah bahtera yang sedang berlabuh menuju satu tujuan. Apabila sang kapten, navigator dan para awak kapal tidak kompak, mau dibawa kemana bahtera tersebut berlayar? because TEAM means Together Everyone Achieves More. Salam FIRST!  

Note : Tulisan ini dimuat dalam buku My FIRST Book yang diterbitkan awal tahun 2015 

Kamis, 14 Mei 2015

FAKTA MENAKJUBKAN SUMUR ZAMZAM



Umat Islam menganggap Air zamzam sebagai air suci. Air Zamzam adalah sumur yang berasal dari mata air yang ada di sekitar Masjidil Haram, letaknya di sebelah tenggara Ka’bah, kedalaman air zamzam ini sekitar 42 meter. Berdasarkan dari salah satu riwayat, mata air itu ditemukan pertama kali oleh Siti Hajar setelah berlari-lari bolak-balik antara bukit Safa dengan bukit Marwah ketika mencari air, itu atas petunjuk Malaikat Jibril, tatkala Ismail putera Siti Hajar yang saat itu masih bayi, mengalami kehausan di tengah padang pasir, sementara persediaan air tidak ada.Tidak ada yang tahu persis bagaimana telaga zam-zam ini bisa mengeluarkan puluhan juta liter pada musim haji dan anehnya lagi sumur zamzam ini tidak pernah mengalami kekeringan. Ini sungguh karunia Allah atas kemahakuasaan-Nya. Berawal dari kisah keluarga di atas muncul lah air zamzam yang bermanfaat sampai sekarang.

 
Berapa banyak Air Zam Zam yang diambil setiap kali musim haji??
Mari kita kira secara acak, Jemaah haji yang datang dari seluruh dunia pada setiap musim haji dewasa ini berjumlah lebih kurang dua juta orang.
Semua jemaah diberi 5 liter air zamzam ketika pulang ke tanah airnya, jika 2 juta orang membawa pulang masing-masing 5 liter air zam-zam ke negaranya, ini saja sudah menjadi 10 juta liter.
Disamping itu sepanjang berada di Mekah dan kebanyakan jamaah tinggal 25 hari dan setiap orang menghabiskan 1 liter sehari maka jumlahnya sudah 50 juta liter.

Ini fakta unik sumur zamzam yang kami rangkum dari beberapa sumber terpercaya:
Pada tahun 1971, seorang dokter dari Mesir mengatakan kepada koran di Eropa bahwa air zam-zam tidak sehat untuk diminum. Pendapatnya berdasarkan bahwa kota Mekah itu ada di bawah garis permukaan laut, Air Zamzam itu berasal dari air limbah penduduk kota Mekah yang meresap, kemudian mengendap terbawa bersama-sama air hujan dan keluar dari sumur air zamzam.
Berita ini sampai ke telinga Raja Faisal yang kemudian memerintahkan Menteri Pertanian dan Sumber Air untuk menyelidiki masalah ini dan mengirim sampel air zam-zam ke Laboratorium-laboratorium di Eropa untuk diuji.

Tariq Hussain seorang insinyur kimia yang bekerja di Institut Penyaringan Air Laut untuk diminum di Jedah, mendapat tugas menyelidikinya. Pada saat memulai tugasnya Tariq belum ada gambaran bagaimana sumur air zam-zam bisa menyimpan air yang begitu banyak seperti tidak ada batasnya.
Ketika sampai di dalam sumur, Tariq amat terkejut ketika melihat bahwa ukuran "kolam" sumur itu hanya 18 x 14 kaki saja (Kira-kira 5 x 4 meter).
Tidak terbayang bagaimana sumur sekecil ini bisa mengeluarkan jutaan Galen air setiap kali musim haji, dan ini terjadi sejak ribuan tahun yang lalu semenjak zaman Nabi Ibrahim AS.
Penelitian menunjukkan bahwa mata air zam-zam bisa mengeluarkan air sebanyak 11-18 liter air per detik, dengan demikian setiap menit 660 liter air akan dihasilkan, itulah yang mengejutkan.
Tariq mulai mengukur kedalaman air sumur dan meminta asistennya masuk ke dalam air, ternyata air sumur itu hanya mencapai sedikit di atas bahu pembantunya yang tinggi tubuhnya 5 kaki 8 inci.
Lalu dia menyuruh asistennya untuk memeriksa, apakah mungkin ada cerukan atau saluran pipa di dalamnya. Setelah memeriksa dari satu tempat ke tempat lainnya, ternyata tidak menemukan apapun!.
Dia berpikir mungkin saja air sumur ini diambil dari luar melalui saluran pompa berkapasiti besar, jika itu keadaannya maka dia dapat melihat turun-naiknya permukaan air secara tiba-tiba.
Tapi dugaannya meleset, dia tidak menemukan gerakan air yang mencurigakan, juga tidak menemukan ada alat yang bisa mendatangkan air dalam jumlah besar.
Selanjutnya dia minta asistennya masuk lagi ke dalam sumur, lalu menyuruh berdiri dan diam ditempatnya sambil mengamati sekelilingnya.
Perhatikan dengan cermat dan laporkan apa yang terjadi walau sekecil apapun, setelah melakukan proses ini dengan cermat, asistennya tiba-tiba mengangkat kedua tangannya sambil berteriak:
"Alhamdulillah, Saya menemukannya! Pasir halus menari-nari di bawah telapak kakiku, dan air itu keluar dari dasar sumur ".
Lalu asistennya diminta berputar mengelilingi sumur ketika tiba saat pemompaan air (untuk disalurkan ke tempat distribusi air) terjadi. Dia merasakan bahwa air yang keluar dari dasar sumur sama besarnya seperti sebelum periode pemompaan. Aliran air yang keluar besarnya sama di setiap titik di semua daerah, ini menyebabkan permukaan sumur itu tetap tidak ada guncangan yang besar.

Mengandung Zat Anti Kuman
Hasil penelitian sampel air di Eropa dan Arab Saudi menunjukkan bahwa air zam-zam mengandung zat fluorida yang ada daya efektif membunuh kuman, sama seperti sudah mengandung obat.
Lalu perbedaan air zam-zam dibandingkan dengan air sumur lain di Mekah dan sekitarnya Arab adalah dalam hal kuantitas kalsium dan garam magnesium.
Isi kedua mineral itu sedikit lebih banyak pada air zam-zam, mungkin sebab itulah air zam-zam dapat menyegarkan bagi jamaah yang kelelahan.
Keistimewaan lain komposisi dan rasa kandungan garamnya selalu stabil selalu sama dari sejak terbentuknya sumur ini. Rasanya selalu terjaga, diakui oleh semua jemaah haji dan umrah yang selalu datang setiap tahun. Dapat Menyembuhkan Penyakit Nabi saw menjelaskan: "Sesungguhnya, air zam-zam ini air yang sangat diberkahi, itu adalah makanan yang mengandung gizi".
Nabi S.A.W. menambahkan: 
"Air zamzam bermanfaat untuk apa saja yang diniatkan ketika meminumnya. Jika engkau minum dengan maksud agar sembuh dari penyakitmu, maka Allah menyembuhkannya. Jika engkau minum dengan maksud supaya merasa kenyang, maka Allah mengenyangkan engkau. Jika engkau meminumnya agar hilang rasa hausmu, maka Allah akan menghilangkan dahagamu itu. Ini adalah air tekanan tumit Jibril, minuman dari Allah untuk Ismail ".
(HR Daruqutni, Ahmad, Ibnu Majah, dari Ibnu Abbas).

Rasulullah (SAW) pernah mengambil air zam-zam dalam sebuah kendi dan wadah dari kulit, kemudian membawanya kembali ke Madinah dan Air zam-zam itu digunakan Rasulullah (saw) untuk memercikkan kepada orang sakit dan kemudian disuruh meminumnya.
Dalam penelitian ilmiah yang dilakukan di laboratorium Eropa, terbukti bahwa air zamzam memang lain dari yang lain. Isi airnya berbeda dengan sumur-sumur yang ada di sekitar Makkah.
Kadar Kalsium dan garam Magnesiumnya lebih tinggi dibanding sumur lainnya, berkhasiat untuk menghilangkan rasa haus dan efek penyembuhan.
Air Zam-zam juga mengandung zat fluorida yang berkhasiat menghancurkan kuman-kuman yang ada dalam kandungan airnya.
Yang juga menakjubkan adalah tidak ada sedikit pun lumut di sumur ini. Air Zam-zam selalu bebas dari kontaminasi kuman. Ajaibnya lagi, pada saat semua sumur air di sekitar Mekah dalam keadaan kering, sumur air zam-zam tetap berair. Dan air zamzam memang tidak pernah kering sepanjang zaman.
 

Wallahua’lam bishawwab…

Dari Berbagai Sumber.

Rabu, 25 Maret 2015

SAFARNAMA PULAU SERIBU DEWA


“Nggak mungkin! Dilihat dari sisi manapun tetap saja beda,” kataku terperangah di tengah-tengah keramaian Bandara Soekarno Hatta, menatap bergantian antara selembar KTP dengan sosok mungil yang menggenggamnya. Ayusalah seorang rekan kantor yang berumur 19 tahun harus menerima kenyataan bahwa malam itu dirinya menjelma sebagai wanita paruh baya berusia lebih dari 30 tahunan, berakting seakan-akan wajah di KTP yang berambut pendek itu adalah dirinya, padahal kepalanya sendiri tertutup hijab rapat-rapat. Dia merupakan salah satu korban tukar penumpang dengan rekan kami yang berhalangan ikut malam itu. Khawatir tiket yang mubadzir, maka ia pun setuju untuk menggantikannya.
            Aku dan tujuh belas rekan lainnya berjejalan menuju gerbang verifikasi seraya memegang boarding pass dan KTP masing-masing. Baliitulah tujuan kami. Libur panjang akhir pekan ini sudah kami rencanakan jauh hari. Ajang melepas penat sekaligus silaturahim dengan rekan dari beberapa departemen berbeda, bahkan satu-dua alumni perusahaan yang sudah menjadi entrepreneur pun ikut serta dalam petualangan ini.
            Lepas pukul sembilan malam, pesawat yang kami tumpangi bertolak menuju Pulau Dewata. Sayangnya, Ayu dan dua rekan lainnya tak berhasil menembus barikade petugas verifikasi yang cermat. Akhirnya, dengan terpaksa kamipun pergi tanpa mereka. Inilah catatan perjalanan kami. Inilah Safarnama.
ᵮᵮᵮ
            Aku berjalan cepat, setengah berlari mengejar rombongan jauh di depan. Beberapa langkah ke belakang, seekor anjing mengendus membayangiku. Di Bali, anjing laksana kucing liar Jakarta, banyak berkeliaran dimana-mana. Dielus, dipangku, dipeluk, diusap, digendong, dicium, bahkan disuapi. Padahal anjing jelas-jelas haramditilik dari segi agama maupun kesehatan, lebih banyak mudharat ketimbang manfaatnya. Bukan berarti Islam tak mempunyai kasih sayang terhadap hewan yang satu ini. Tengoklah kisah pelacur yang masuk syurga karena memberi minum anjing yang kehausan. Bukankah kisah tersebut merupakan ibroh bahwa menyayangi anjing itu tidak salah? Barangsiapa yang memelihara anjing, kecuali untuk menjaga ternak atau berburu, maka akan dikurangi amalnya setiap hari sebanyak dua qirath(1).
            Destinasi pertama, kami mengunjungi Goa Gajah—gua buatan yang berfungsi sebagai tempat peribadatan. Di ambang gua nampak pahatan wajah raksasa yang menyeramkan dengan mata bulat melirik ke arah kanan, lengkap dengan deretan gigi taringnya. Dupa dimana-mana. Bau kemenyan menusuk disetiap hembusan napas, disertai kumpulan sesajen berjejer berwadah pelepah daun pisang yang berbentuk kotak-kotak. Konon, seorang anak kecil yang sengaja melangkahi sesajen itu, esoknya jatuh sakit ditambah tak bisa buang air selama berhari-hari. Menurut mereka, Dewanya marah. Menurutku setanlah yang marah.
            “Mas, nanti kita Shalat Jumat dimana?” tanyaku pada seorang rekan yang sudah hafal seluk-beluk Bali.
“Waah di sini mah nggak ada masjid Mas, dijamak saja nanti di penginapan,” ujarnya santai.
Astaghfirullahaladziem. Hari pertama sudah meninggalkan Shalat Jumat yang notabene wajib bagi setiap muslimin. Mau tak mau diganti dengan Shalat Zuhur, itupun dilakukan di dalam mobil. Oalaah. Seketika muncul rasa tidak bersemangat. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap(2). Aku terngiang sebuah ayat. Di manapun kita berpijak, masih di bumi Allah. Jadi bertasbih dan bertahmidlah di manapun kita berada.
Menelusuri Goa Gajah, yang terlihat hanyalah kumpulan Arca dan Stupa yang terkesan mistis. Memasuki lambung gua, jauh terasa lebih angker. Asap kemenyan menghalangi pandangan. Udara lembab, bulu kuduk pun merinding. A'udzu bi kalimatillahit tammah min syarri ma khalaq. Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakan-Nya.
ᵮᵮᵮ
Haluan berikutnya yaitu Pura Besakih. Usul seorang kawan, katanya hari ini sedang dilaksanakan upacara. Seharusnya suasana ramai. Benar saja, jalan menuju Pura Besakih disesaki gerombolan penduduk yang membawa wadah berisi berbagai jenis hasil alam. Kumpulan keluarga berbondong-bondong menghadiri upacara. Tegur sapa dan silaturahim dengan keluarga lain yang mengenakan pakaian adat Hindu nampak seperti perayaan Idul Fitri buatku. Bedanya mereka membawa sesajen, beras dan hasil tumbuh-tumbuhan lainnya sebagai wujud syukur untuk diserahkan pada Dewa di balik Gunung Agung yang dipercaya sebagai pusat Pemerintahan Alam ArwahAlam Para Dewata. Batinku perih. Di tengah banyaknya masyarakat yang menderita kelaparan, mereka membuang karunia Allah begitu saja menjadi onggokan sampah dan bangkai makanan.
Menuju Pura, di kanan-kiri jalan bertebaran warung makan bagai Wartegnya Jakarta. Alih-alih ayam ataupun ikan goreng, yang terlihat adalah sajian babi panggang merah kecoklatan yang terpampang di setiap warung beralaskan nampan besar. Perutku mual, menjalar naik ke kepala, yang diikuti rasa ingin muntah kala melihat hidangan-hidangan tersebut. Tak ayal, napas sering kutahan ketika melewati warung-warung itu dimana asap babi yang baru matang mengudara kemana-mana.
Kondisi sangat ramaipedagang, turis, tour guide, tukang foto berkeliaran dimana-mana, ditambah anjing yang berlari kesana-kemari. Jalan masuk pura berbentuk puluhan undakan tangga yang diapit barisan patung dewa memakai kain warna-warni menutupi tubuh bagian bawah, namun bagian atasnya terbuka. Bertudung payung merah, putih dan kuning serta mengenakan penutup kepala. Beberapa patung itu tampak gompal. Aku heran, bagaimana bisa mereka bergantung dan menyerahkan nasib kepada patung-patung yang bahkan tak bisa memakai kain sendiri? Yang tak bisa berteduh saat terik matahari menyengat? Yang dipayungi ketika kehujanan? Yang wajah dan permukaannya gompal akibat terpaan siklus pergantian cuaca? Bagaimana mungkin mereka memohon perlindungan kepada benda yang tak bisa melindungi dirinya sendiri? Bagaimana mereka meminta ketenangan kepada Dewa-Dewi yang terlihat menyeramkan, bahkan lebih seram daripada Genderuwo? Yang tak bisa menenangkan orang yang memandangnya apalagi menggantungkan hidup kepadanya? Sungguh Ironi.
Cahyo, ajarin dong caranya shalat di mobil?” pinta seorang teman ketika kami berpindah menuju destinasi berikutnya. Memang, sudah beberapa kali ini dia memperhatikanku melaksanakan shalat diam-diam di deretan kursi belakang.
“Gampang kok. Kalau nggak punya wudhu, cukup tayamum saja. Lalu laksanakan sambil duduk dan lakukan sedikit pergerakan sebagai isyarat pergantian gerakan shalat. Nggak perlu berdiri apalagi sujud sungguhan, lagian nggak mungkin kan di mobil yang padat ini kita bisa bebas berdiri dan sujud?” jawabku dengan tersenyum.
Gapapa tuh, Yo? Yakin shalatnya sah?” tanyanya lagi.
“Tenaaang, Allah itu nggak mempersulit hambanya untuk beribadah. Insya Allah sah, yang terpenting bagaimana niatnya,” kataku seraya menunjuk ke arah dada. Sebagai musafir kami terpaksa melakukan hal ini walau hati kecilku sebenarnya merasa berdosa.
ᵮᵮᵮ
Esoknya kami menuju Pura Uluwatusitus yang terkenal akan monyetnya yang beringas. Apabila seseorang membawa makanan, mereka rebut. Memotret, mereka terkam. Memakai kacamata, mereka curi. Jangan pernah sekali-kali mengenakan sesuatu yang mencolok atau tanggung sendiri akibatnya.
Cahyo, Shalat Ashar dulu sana,” tunjuk seorang rekan ke sebuah pos kecil di samping loket masuk. Shalat? Dimana? tanyaku dalam hati. Mana mungkin tempat seperti ini menyediakan ruang shalat meski sekadar Langgar ataupun Mushala? Tak dinyana, ganasnya monyet-monyet Uluwatu sangat bertolak belakang dengan para pengelolanya yang nampak ramah dan bersahabat. Rombongan kami dipersilakan untuk menunaikan shalat di sebuah petak pos penjagaan. Di dalam pondok kecil yang terdapat beberapa patung mini dan lukisan Dewa inilah kami menunaikan jamak takhir Zuhur dan Ashar.
Selesai melakukan jamak takhir di pos Uluwatu, kami melesat menyusuri Jalan Legian. Sabtu malam kami berfoto di Monumen Bom Bali atau yang dikenal dengan sebutan Monumen Ground ZeroTugu yang bertuliskan nama-nama korban bom Bali tahun 2002 silam. Lupakan suasana Jakarta. Di sini, atmosfer terasa bagai Las Vegas. Sepanjang jalan yang ada hanya dentam-dentum hingar-bingar musik diskotek yang ramai. Simpang-siur turis bule yang mengenakan pakaian you-can-see-nya, berlalu tanpa risih sedikitpun.
Dancer diiringi DJ merupakan menu wajib tempat ini. Makin malam makin menggila. Aku melihat turis yang menggandeng pasangannya sambil bercanda. Layar LCD di depan sebuah bar menunjukkan suasana remang-remang yang dipenuhi tubuh meliuk-liuk di tengah kepulan asap. Wanita menari-nari dipertontonkan puluhan pria yang tengah menenggak alkohol, memuaskan syahwat duniawi mereka tanpa sadar bahwa ajal bisa datang menghampiri kapan saja.
“Kalau mau sampai tengah malam, tuh cewek ampe nggak pake apa-apa narinya,” kata seorang rekan yang hobi traveling. “Mau liat nggak?”
Wajar saja jika dibom, batinku. Bukan maksud membenarkan pelaku pemboman, namun apa yang nampak sudah sangat tidak bermoral. Belasan polisi berjaga-jaga di beberapa sudut, seperti sedang mengamankan Tabligh Akbar menjelang hari raya Idul Fitri.
Barang siapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah mengubah dengan tangannya. Apabila tidak mampu, maka hendaknya dengan lisannya. Apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman(3). Ya Rabb, maafkan hamba yang tidak bisa berbuat apa-apa di tengah kemaksiatan yang merajalela.
Perjalanan ini bukanlah sekadar mengagumi keindahan panorama eksotis Bali saja. Perjalanan ini hakikatnya menjadi ekskursi pengingat diri bahwa di tengah kondisi apapun, ibadah harus tetap dilaksanakan. Berdiri, duduk atau berbaring sekalipun. Tak ada masjid, hamparan bumi yang luas dijadikan tempat bersujud. Kelak langitpun akan bersaksi mengenai kesungguhan iman kita. Safarnama ini selayaknya memberikan ibroh yang sangat dalam untukku, karena merugilah bagi kaum yang tidak bisa mengambil pelajaran.
Bye Bali. Selamat tinggal Pulau Seribu Dewa. Sayonara....
ᵮᵮᵮ

1.      HR. Bukhari, no. 5163, Muslim, no. 1574
2.      QS. Al-Baqarah ayat 22
3.      HR. Muslim


Senin, 16 Maret 2015

PINTAR TAPI BODOH?

Saat sedang berbincang tentang Islam dengan seorang anak SD rekan kerja-nya, Abdullah tersentak dengan pertanyaan sang Anak.
Anak : “Om, kata Oom kan Islam itu agama untuk orang-orang yang berfikir,, hanya orang pintar yang menjalankan Islam dengan Khaffah”
Abdullah : “Benar,, Oom bilang begitu,, kenapa memangnya?”
Anak : “Loch,, kok Einstein gak masuk Islam Om?”
Abdullah pun terdiam sebentar mencoba memahami logika sang Anak, lalu menjawab :
Abdullah : “Menurut kamu, Oom pintar gak?”
Anak : “Hmmn,,,, Pintar” (Alhamdulillah masih dianggap pintar batin Abdullah,,, tapi Ini anak ya,, jawab begitu aja pake mikir dulu,,,) :D
Abdullah : “Tapi kok Oom gak ngerti apa-apa tentang Kimia ya? Oom juga bodoh loch soal fisika? Apalagi Geografi, kenapa ya?”
Anak : “Ya karena Oom gak belajar tentang itu” Tukas sang anak cerdas ini dengan cepat.
Abdullah : “Kenapa Oom gak belajar?” Kejar Abdullah
Anak : “Lah,, justru itu,, kenapa Oom gak belajar?” Balas sang anak
Abdullah : “Kalau Oom gak belajar karena Oom gak tertarik sama Kimia/ Fisika sebagaimana Oom tertarik dengan ekonomi, jadi Oom gak meluangkan waktu ke sana”
Anak : “Hmn,,, berarti Einstein gak tertarik dengan Islam ya Om?”
Abdullah : “Einstein bukan tidak tertarik dengan Islam Nak,, tapi Einstein tidak tertarik pada Kebenaran Akhirat, dia mungkin gak percaya sama Akhirat karena dia terlalu bersandar pada logika-nya, sehingga dia malas mengerahkan waktunya untuk mencari kebenaran akhirat, yang ujung-ujungnya menyebabkan dia menjadi satu golongan dengan orang-orang yang bodoh di akhirat,, sebagaimana oom juga akan masuk ke dalam golongan orang-orang yang bodoh saat berkumpul dengan para sarjana Fisika dan Kimia” Jelas Abdullah.
Anak : “Hmmn,,, gitu ya Om”
Abdullah : “Itu menurut Oom,, kalau kamu sependapat silahkan ambil, tapi kalau punya pendapat yang lebih baik ayo kita diskusikan lagi,, jadi kamu mau ngumpul sama Einstein gak di akhirat,, dipuji pintar di dunia oleh Manusia, tetapi dihinakan Allah bersama orang-orang bodoh di akhirat”.
Anak : “Kagak Ah,, aku maunya pintar di dunia, dan dipuji Allah di Akhirat”
Abdullah : “Wah, hebat dong,,, berarti kamu harus belajar Ilmu Dunia dan gak boleh menduakan ilmu Akhirat,,, susah sih,,, tapi kalau kamu sih,,, Oom yakin kamu pasti bisa,,, tinggal mau atau kagak aja,,, mau gak?”
Anak : “Mau Om”
Dan selanjutnya mereka kembali mengaji sambil bercanda,, eh, atau bercanda sambil mengaji karena kebanyakan becandanya,,,
Ya pokoknya hari itu Abdullah disadarkan oleh sahabat kecil-nya bahwa kita ini manusia, hanya Allah lah yang Maha Mengetahui dan Maha Berilmu, kita memiliki keterbatasan dalam belajar dan mustahil bisa menguasai segala-nya, karena bahkan Einstein yang telah berhasil mengaktifkan 15% kemampuan potensial otak manusia,, tetap gagal memahami Ilmu Allah hanya karena kesalahan memilih prioritas Ilmu,,, apalagi kita yang mungkin Cuma bisa mengaktifkan 5% kemampuan potensial kita,,, maka mulailah menentukan prioritas Ilmu kita,,, yang pasti Prioritas satu adalah Ilmu Akhirat,, untuk prioritas dua dan seterusnya dikembalikan kepada kita.
Semoga Allah menganugerahi kita Ilmu yang bisa memuliakan kita di dunia dan akhirat sebagaimana Ilmu yang Allah berikan kepada Ayahanda kita tercinta Nabi Adam AS yang menyebabkan para Malaikat bersukarela bersujud kepada beliau atas perintah Allah.

Maka sudahkah kita memutuskan ilmu prioritas kita? 

Sabtu, 07 Maret 2015

JAVA NASYID FESTIVAL?

Pekan ini, teman-teman kantor ramai membicarakan Festival Java Jazz 2015 yang biasa diselenggarakan di JIEXPO Kemayoran. Siapa sih yang tidak kenal dengan Festival musik yang satu ini? Bagai ajang reuni musisi dalam dan luar negeri, semua berkumpul untuk memuaskan dahaga para pecinta musik tanah air maupun mancanegara. Sekonyong-konyong muncul pertanyaan di benak saya, mungkinkah diselenggarakan acara serupa dengan tagline yang berbeda, misalnya Jakarta International JAVA NASYID FESTIVAL?
                Sekilas mungkin terdengar aneh, tetapi sebagai pecinta nasyid, ingin sekali rasanya even seperti ini dapat diselenggarakan suatu saat nanti. Bukan tidak mungkin kelak nasyid dapat menjadi musik alternatif di Indonesia. Mengapa disebut musik alternatif? Bagi saya pribadi, tidak setuju jika nasyid hanya dianggap sebagai musik dengan tabuhan rebana yang konvensional dan membosankan. Kualitas nasyid saat ini tak jauh berbeda dengan lagu-lagu general di tanah air. Genrenya pun sudah meluas. Tak hanya Nasida Ria dengan lagu Perdamaian-nya ataupun Raihan dengan lagu Demi Masa-nya, nasyid masa kini sudah merambah luas ke ranah pop, dangdut, rock, bahkan rap dan hiphop. Coba saja tengok Doa dan Harapan dari The Fikr, tim nasyid asal bandung yang dengan kreativitasnya melahirkan sebuah nasyid dangdut yang meledak. Atau coba dengar nasyid hiphop Thufail Al-Ghifari yang sarat makna. Atau Jalanku dari tim nasyid NANDA yang menyebut dirinya sebagai Song Solution. Ada lagi Ebith Beat A dengan nasyid-nasyidnya yang nge-BEAT. Bahkan bukan hanya di Indonesia, tapi juga di berbagai belahan dunia, nasyid sudah mulai berkembang dan ramai. Sekali-kali silakan Anda mengunjungi website muslimhiphop.com yang mengompilasi nasyid hiphop dari seluruh dunia.
                Lalu, kalau begitu apa bedanya nasyid dengan musik biasa? Jelas berbeda. Selain menghibur, sudah pasti lirik dari lagu-lagu nasyid mempunyai pesan dan hikmah yang dapat kita petik. Itulah mengapa saya menyebutnya sebagai musik alternatif. Di tengah maraknya lagu-lagu percintaan yang vulgar, nasyid hadir sebagai solusi dan pembelajaran yang mengasyikkan. Seandainya saja nasyid tidak lagi menjadi musik musiman yang hanya dinikmati menjelang bulan Ramadhan.

We stand for peace, in times of war we shan't surrender,
Remember, it didn't start in that dark December,
Every coin is a bullet, if you're Mark's and Spencer,
And when your sipping Coca-Cola,
That's another pistol in the holster of the soulless soldiers,
You say you know about the Zionist lobby,
But you put money in their pocket when you're buying their coffee,
Talking about revolution, sitting in Starbucks,

Paragraf di atas adalah petikan lirik salah satu lagu dari LOWKEY―penyanyi mancanegara yang lagu-lagunya bisa dikategorikan sebagai nasyid. Yang lebih mencengangkan lagi, ada sebuah tim yang salah satu personilnya non-muslim, namun lagu-lagunya sarat makna, bahkan bisa dibilang berkarakteristik Islami. Dialah OUTLANDISH. Trio yang pernah berduet dengan Sami Yusuf ini menyinggung penjajahan Israel ke Palestina seperti yang nampak pada syair dan video salah satu lagunya yang berjudul Look Into My Eyes.

                Aa Gym pernah mengatakan bahwa nasyid adalah salah satu titik sentuh dalam dakwah. Makin luas kita buka titik sentuh dalam berdakwah, maka makin banyak orang yang akan mendapatkan kebaikan, Insya Allah.